Mixtape.
Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet quisque rutrum. [vc_empty_space height="34px"]

Setiap Hari Di Bully, Falenz Golgota Semakin Bersemangat Untuk Berkarya

Nicko Show - IDE TIMUR

IDE Timur – Di bully, di bully dan di bully. Itulah yang terjadi setiap hari kepada Falens Taborat di awal-awal ia meniti karir. Pria asal Maluku yang kini populer dengan nama panggung Falenz Golgota ini memang selalu menjadi sasaran bully dari teman-temannya.

Bukan tanpa alasan jika Falenz Golgota kerap di bully oleh teman-temannya. Pasalnya, Falenz sebenarnya tak memiliki bakat musik. Bahkan Falenz mengaku tak memiliki pengetahuan mengenai musik.

Falenz mengawali karirnya sebagai seorang dancer. Di kota asalnya, dance memang cukup populer. Hingga akhirnya, seorang teman mengenalkannya dengan musik rap. Iseng dan sekedar ikut-ikutan, Fallenz pun mulai mempelajari rap.

Bersama 14 orang temannya, setiap hari Falenz berusaha untuk bisa menjadi seorang rapper. Namun apa mau dikata, disaat 14 temannya terus mengalami kemajuan, Falenz justru menjadi satu-satunya orang yang tertinggal.

“Kita latihan di komplek. Waktu itu aku gugup sekali. Yang lain berhasil semua. Cuma aku yang nggak bisa,” kenang Falenz.

Alhasil, Falenz menjadi sasaran bully dari teman-temannya. Setiap hari nge-rap, Falenz merasa ia seperti sedang membaca sebuah buku. Nada-nada yang dikeluarkannya pun terdengar datar.

“Aku memang tidak memiliki jiwa seni sama sekali. Suaraku aja nggak bagus,” kata Falenz sambil tertawa.

Falenz Golgota (Foto. Dokpri)

 

Namun justru cemooh-cemooh tersebut membuat dirinya bangkit. Tak ada alasan lagi untuk mundur. Saat itu, setiap orang yang bisa nge-rap memang selalu dianggap keren. Falenz pun ingin dirinya juga dianggap keren oleh teman-temannya.

“Waktu itu trendnya memang seperti itu. Kalau nggak ikut nggak keren. Padahal setiap rekaman aku selalu gugup,” beber Falenz.

Berbagai usaha pun dilakukannya. Kemana pun ia pergi, dimana pun ia berada, Falenz selalu latihan bernyanyi. Bahkan naik motor pun Falenz selalu bersenandung. Tak hanya menyanyi, Falenz juga mempelajari segala hal mengenai produksi musik.

Wajar memang, di kota asalnya, segalanya memang masih terbatas. Untuk mendalami musik, Falenz harus serba bisa. Dengan laptop pinjaman, mic seadanya dan koneksi internet yang tidak mendukung, Falenz pun mulai memproduksi lagu sendiri.

Namun tetap saja, perjuangannya tersebut tak pernah mendapat pujian dari teman-temannya. Justru sebaliknya, Falenz kembali menjadi sasaran bully dari teman-temannya.

“Mungkin karena aku nggak punya bakat musik, jadi tetap dihina. Katanya hasilnya jelek lah. Tapi kan aku pengen keren. Jadi tetap semangat,” ungkap Falenz.

Falenz Golgota (Foto. Dokpri)

 

Hingga akhirnya, di tahun 2012, salah satu lagu karyanya dibeli oleh orang lain. Saat itulah teman-temannya mulai mengakui bakat Falenz di bidang musik.

Waktu pun berjalan, Falenz terus bersemangat untuk mendalami musik. Ia pun mulai mengenal beberapa pemusik lokal seperti Toton Caribo dan lain sebagainya, Falenz juga mulai memberanikan diri untuk mengunggah karya musiknya di YouTube channel miliknya.

“Waktu tahun 2015, salah satu videoku tembus 100 ribu. Di tahun itu kan lumayan. Tapi tiba-tiba kena hack. Jadi akhirnya ditutup,” jelas Falenz.

Kini Falenz telah membuktikan jika semangat pantang mundurnya berhasil membungkam orang-orang yang telah mencemoohnya. Falenz pun telah memiliki channel YouTube baru.  Karya-karya Falenz pun banyak mendapat apresiasi dari orang-orang.

 

Written By: Nicko Show - IDE TIMUR