Musik Indonesia Timur tumbuh dari keragaman budaya, cerita lokal, dan pengalaman hidup yang panjang. Namun dalam perjalanan industri musik nasional, suara dari Timur kerap berada di pinggir, hadir tapi belum sepenuhnya didengar. Banyak musisi dari Timur harus berjuang lebih keras untuk mendapat ruang, pengakuan, dan ekosistem yang mendukung keberlanjutan karya mereka.
Melihat realitas tersebut, IDETIMUR hadir sebagai agregator yang mendorong pergerakan kolektif: bukan hanya mendistribusikan karya, tetapi juga membuka ruang dialog tentang masa depan dan keberlanjutan ekosistem musik Indonesia Timur.
Berangkat dari semangat tersebut, pada Desember 2025 IDETIMUR merekomendasikan perlunya ruang diskusi langsung antara musisi Indonesia Timur dan pemangku kebijakan. Tantangan yang dihadapi musisi Timur, mulai dari keterbatasan akses, representasi genre, hingga keberlanjutan ekosistem perlu dibahas secara terbuka.
Momentum ini kemudian terwujud melalui Focus Group Discussion (FGD) Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia kolaborasi dengan IDETIMUR yang digelar pada Selasa, 27 Januari 2026 di Gedung A Kementerian Kebudayaan – Lantai 3, sebagai upaya bersama mendorong ekosistem musik Indonesia Timur yang lebih berkelanjutan. Puluhan musisi Indonesia Timur hadir dan bersuara, di antaranya Silet Open Up, Ecko Show, Faris Adam, Toton Caribo, Jacson Zeran, Willy Sopacua, Juan Reza, Justy Aldrin, Wizz Baker, Riyan Brebet, serta berbagai pihak lainnya.
Dalam forum ini, para musisi secara langsung menyampaikan pengalaman, kegelisahan, dan harapan mereka terhadap industri musik nasional.
“Kami tuh kayak krisis identitas, kita bikin lagu disko tanah tapi dianggapnya itu lagu barat, torang bikin lagu timur dianggapnya torang orang barat” – Ryan Junior

Diskusi berlangsung dinamis dan menjadi titik klimaks pertemuan: suara yang selama ini tersebar akhirnya berkumpul dalam satu ruang dialog bersama pemerintah.
Salah satu hasil penting dari diskusi ini adalah kesepakatan awal untuk menghadirkan #TIMURNESIA, sebuah genre sekaligus identitas yang bertujuan mengakomodasi keragaman musik Indonesia Timur dalam ekosistem nasional dan global secara berkelanjutan.
#TIMURNESIA tidak dimaksudkan sebagai batasan, melainkan sebagai ruang bersama, tempat musik Indonesia Timur dapat tumbuh dengan cirinya sendiri, tanpa kehilangan relevansi di tingkat nasional.
“Kami percaya #TIMURNESIA adalah rumah baru, hasil aspirasi dari seluruh musisi Indonesia Timur yang akhirnya terealisasi. Ke depan kami mengharapkan dan akan mengupayakan yang terbaik agar genre ini terus sustain baik dalam ekosistem nasional dan global” – Wahyu, Partnership IDETIMUR.
Focus Group Discussion yang digelar oleh Kementerian Kebudayaan RI dengan IDETIMUR menjadi langkah awal dari perjalanan panjang dalam mendorong ekosistem musik Indonesia Timur yang berkelanjutan. Kolaborasi antara musisi, pelaku industri musik dan pemerintah ini diharapkan terus berlanjut, membuka lebih banyak ruang, dan melahirkan karya-karya yang terbit dari timur untuk Indonesia.
Pergerakan ini baru dimulai. Dukungan publik, pendengar, dan seluruh ekosistem menjadi kunci agar musik Indonesia Timur tidak hanya terdengar, tetapi juga berkelanjutan.
